Aku, Kamu, dan Sajak-Sajak Patahku

© mbeeer, 2013. All Right Reserved
  Copyright & Privacy Policy

About Me

Kamu tau apa alasanku selalu ber-sajak untukmu?

karena Tulisanku adalah satu-satunya media ketika tanganku tak sanggup lagi memelukmu..

Silahkan Bertanya ☺

Tumblr I follow:

© mbeeer.tumblr.com 2013
  1. "Teruslah membuatnya menangis, maka akan ada pria lain yg akan menyeka air matanya."

    Tuesday, Jul 29, 2014   23:09:00
  2. 14 Notes
  3. "Terkadang, memaafkan karena kesalahan yg sama bukan karena diriku sudah terlanjur cinta.
    Melainkan, sakit karena memaafkan masih jauh lebih baik ketimbang sakit karena kehilangan."

    Tuesday, Jul 29, 2014   22:58:28
  4. 13 Notes
  5. "Ia adalah sosok yang sederhana; lebih dari sempurna. Ia mencium keningku, pergi, kemudian tak kembali."

    -

    Zarry Hendrik (via mbeeer)

    Aku mengalaminya.

    (via nyaaarusmayasari)

    Aku pun mengalaminy :) tapi saat dia pergi aku tak berdiam diri, aku cukup tak sadar diri. Aku menjejak setiap tapak langkahny, sampai saat ini..

    (via biashujan)

    Tuesday, Jul 29, 2014   21:31:48
  6. 38 Notes
    Reblogged: biashujan
  7. "Seandainya melepasmu hanya sekedar tinggal unfollow, mungkin hidupku tenang."

    Monday, Jul 28, 2014   23:59:02
  8. 61 Notes
  9. "Kelak akan datang suatu hari, di mana ketika mendengar namamu terucap, hatiku biasa saja."

    Monday, Jul 28, 2014   20:01:36
  10. 135 Notes
  11. "Dalam ucapan maaf malam tadi, ada satu hati yg meminta maaf dengan tenang, dan ada satu hati yg mencoba meminta maaf tanpa melibatkan perasaan."

    Monday, Jul 28, 2014   16:09:21
  12. 74 Notes
  13. The Way I Loose Her: School At First Sight

    Ada beberapa hal buruk yg akan kamu ketahui perihal dirinya. Jauh dari apa yg kamu perkirakan ketika kamu mulai diizinkan masuk ke dalam hatinya. 

    Dan caramu menerima setiap kekurangannya, adalah caramu berterimakasih.

    .

    Hari ini gue dateng ditemani oleh 2 orang keluarga gue. Yg pertama-tama adalah ibu gue, dan yg kedua adalah kakak kandung gue sendiri. Alasan kenapa ibu gue masih setia menemani kemanapun gue pergi adalah karena pada saat itu gue masih bisa dibilang sebagai seorang bocah lugu. Jadi yg mengurus segala keperluan pendaftaran, penyerahan ijazah, dan segala macam hal gak penting lainnya itu adalah Ibu.

    Sedangkan yg satu lagi adalah kakak gue sendiri. Dan kebetulan, dia ini juga mantan jebolan dari SMA yg bersangkutan. Oleh karena itu, selagi anak-anak alay dengan baju biru lainnya masih duduk manis menemani orang tuanya masing-masing melakukan pedanftaraan di pendopo sekolahan, gue dan kakak gue malah jalan-jalan muterin sekolah.

    Gila, gimana gak makin petantang-petenteng nih gue. Dari jauh gue liat semua mata anak-anak tertuju kearah gue yg bertingkah selayaknya seorang senior di sini.

    Pada jaman pertama gue masuk sekolah dulu, sekolah ini bisa dibilang adalah sekolah yg masih bertema OLD SCHOOL banget. Dari meja kayu yg masih pada penuh dengan coretan tip-x. Ntah itu coretan cinta-cintaan seperti "Buya ♥ Hani", atau bahkan hingga coret-coretan alat kelamin pria yg digambar dengan seenaknya.

    Nah ini nih yg sering ngebuat gue suka heran sendiri. Nggak mungkin banget kalau ada cewek yg suka corat-coret gambar beginian, ini pasti kerjaan cowok. Lha tapi apa kalian mikir? ngapain juga cowok corat-coret gambar “pisang loyo” begini? apa mereka saking cintanya sama benda begituan sampe iseng gambar-gambar beginian ya?

    Gue gak habis pikir…
    Apa indahnya juga ada gambar Terong Balado di meja sekolahan. Yg ada juga malah jadi nggak akan konsen kalau mau nulis. Bhahahahak dongo abis..

    Dan hal itu masih belum seberapa. Pintu kelasnya pun masih seperti pintu-pintu jaman Belanda. Dindingnya masih penuh dengan bekas bercak hitam karena terlalu sering terkena air.

    WC sekolah baunya masih seperti bau neraka jahanam. Dan gue gak harus jelasin bentuknya seperti apa kan? Pokoknya 11-12 sama WC yg ada di pom bensin deh.

    Sekolah gue ini juga banyak bangsalnya, karena konon katanya sekolah gue ini adalah bekas dari salah satu Rumah Sakit waktu jaman penjajahan Belanda dulu. Oleh karena itu ada beberapa kelas yg jalan di depannya hanya sebatas 3 petak lantai saja. 

    Rumor bilang sih itu dulu dipakai sebagai kamar mayat.
    Cocok deh buat shooting sinetron Mr. Tukul Jalan-Jalan.

    .

                                                                ===

    .

    "Dim, inilah calon sekolah kamu nanti.." Kata kakak gue sembari menunjukkan isi sekolah.

    "Astaga, kalau dibandingin SMP gue dulu, ini sekolahan jelek amat. Kena angin topan aja runtuh kayaknya" 

    "Hahahaha emang begitu. Tapi jangan salah, biarpun jelek-jelek begini, Masa SMA adalah masa yg paling indah. Nggak akan pernah kamu lupakan sampai kapanpun. Bahkan masa SMP dan Kuliah nanti itu ngga akan seberapa jika dibandingkan masa-masa indah jaman SMA"

    "Hoo" Gue mendengarkan penjelasaan kakak gue ini dengan kagum.

    "Nanti setelah kamu masuk ke sekolah ini, kamu akan makin sering menemukan hal-hal aneh di sekolahan ini. Ntah itu suasananya yg agak serem lah, atau bahkan jeleknya bangunan sekolah ini. 

    Tapi, seiring dengan kamu mengetahui kekurangan sekolah ini, selama itu pula kamu akan mulai perlahan-lahan mencintainya. Mencintai orang-orangnya, guru-gurunya, OSIS-nya, Ekskul-nya, Staf Koprasinya, Atau bahkan bibi-bibi penjaga kantin. Nah, ayo deh sekarang kita ke kantinnya” ajak kakak gue seraya berjalan menuju kantin.

    "Okee!!" jawab gue dengan penuh semangat.

    "Kantinnya juga gak begitu bagus sih, yuk kesana.."

    "Eh bentar-bentar, terus kalau musholanya di sebelah mana, mba?" Gue bertanya

    "Tuh"

    .

    Kakak gue menunjukkan sebuah tempat dengan alas karpet sajadah berwarna hijau. Dan usut punya usut, Mushola sekolah ini ternyata bersebelahan dengan pendopo tempat ibu gue nongkrong-nongkrong cantik buat melakukan pedaftaran.

    Pantas saja gue gak menyadari kalau itu mushola, lha itu sih emang bekas sebuah kelas yg dijadikan sebuah Mushola gara-gara gak ada lagi lahan untuk membuat bangunan baru.

    Astaga, sekolah favorite gue kok gini-gini amat yak. Tapi ntah kenapa semakin gue mengenal sekolah ini, semakin yakin gue untuk bisa masuk dan bersekolah di sini.

    Dan tanpa gue sadari, tempat ini lah yg nantinya akan menempa gue menjadi seseorang yg berdiri gagah sekarang ini. Sekolah bobrok yg gue hina-hina dulu ini, sekarang menjadi tempat yg akan dengan bangga gue ceritakan kepada anak-anak gue kelak, sebagai tempat di mana ayahnya mengenal cinta, dan sakit hati tiada tara. 

    Oke. Lupakan.
    itu sama sekali gak keren.

    .

    Sembari mengunyah permen karet yg lagi ngetrend pada jamannya itu, gue yg masih berjalan petantang-petenteng ini berjalan menuju kantin. Selama perjalanan, gue berusaha mengingat seluruh tempat yg sudah gue lewati. Karena siapa tau gue bener-bener masuk sini, dan ketika  ospek nanti gue gak akan terlalu kaku.

    Dan mendadak, jalan yg gue laluin sama kakak gue ini semakin kecil.. Semakin kecil.. dan semakin kecil.. 

    Buset, jalan menuju kantin sekolah ini ternyata sempit amat. Bisa dibilang jalan menuju kantin sekolah ini mirip sama celana Legging Cewek Hijab Sosialita. Alias sempit dan membentuk.

    .

    Menurut penjelasan kakak gue, setiap menjelang istirahat dan waktu istirahat selesai, jalan yg gue laluin ini adalah jalan paling macet di sekolahan. Itu sebabnya kakak gue paling males kalau ke kantin, alhasil dia selalu membawa bekal makanan tiap dia bersekolah dulu.

    Dan yg bikin gue makin terpana adalah tempat warung-warung jualannya. Disana benar-benar old school abis. Letak warung-warungnya ada di kiri dan kanan, sedangkan untuk tempat anak-anak nongkrong dan makan, posisinya ada di tengah. Di posisi tengah itu disediakan 8 buah meja panjang beserta korsi-korsinya.

    "Kamu kalau mau nongkrong-nongkrong gaul ya di sini tempatnya. Waktu nongkrong paling tepat tuh waktu pas mau bubaran sekolah dan waktu pas mau masuk sekolah. Karena ini adalah gerbang satu-satunya untuk bisa keluar masuk dari sekolahan ini."

    "Loh, bukannya lewat pintu tengah itu bisa?" tanya gue.

    "Itu sih khusus guru. Kamu bakal dimarahin kalau lewat sana"

    "Terus? gerbang besi yg di ujung sekolah itu?"

    "Oh itu, bisa juga lewat situ, tapi jarang dibuka, soalnya itu langsung menuju ke parkiran motor, jadi biasanya banyak anak-anak mabal kalau lewat sana.."

    "Luar biasa!! Strategis abis tuh gerbang" Gue semakin berdecak kagum.

    "Belon masuk sekolah udah mikir mau mabal aja kamu" ucap kakak gue ketus.

    "Hehehe"

    .

    Dan dari kantin ini, ada satu jalan menuju arah lapang basket. Jadi secara tidak langsung, kantin ini menjadi penghubung antara lapangan basket, dan badan utama sekolahaan.

    Karena hari ini hari libur, jadi hanya ada satu warung kantin saja yg sedang terlihat buka siang itu. Menurut penjelasan kakak gue, warung tersebut katanya milik penjaga sekolah, makannya hari libur kaya gini pun itu kantin masih saja tetap buka. 

    Sebelum melanjutkan aktivitas tour guide keliling sekolah, kakak gue izin sebentar buat jajan dan silahturahmi ke kantin tersebut. Meninggalkan gue sendirian buat liat-liat lapangan basket.

    Gue kagum banget sama sekolah ini, dari bentuk bangunan belandanya pun masih terlihat pekat banget. Ditambah di kiri dan kanan banyak pepohonan rindang. Membuat sekolah ini tampak sejuk, sekaligus menakutkan.

    Sedang asik-asiknya melihat bangunan sekolah, mendadak gue dikejutkan oleh seseorang anak dengan pakaian Putih Biru membawa beberapa berkas.

    .

    "Permisi.." Tanya anak itu kearah gue

    "Ya?"

    "Daftar di sini juga ya?"

    "Iya, kamu juga?"

    "Iya. Ngomong-ngomong ini berkas harus diserahkan ke mana ya?" tanyanya lagi sembari menunjukkan amplop map berwarna biru.

    Loh gak sama ibu/bapak?”

    "Engga, saya di sini sama Tante, orang tua ada di bangka semua"

    "Hoooo anak Bangka toh"

    "Heheh iya, ngomong-ngomong saya harus ke mana ya?" tanyanya lagi.

    "Oh masuk aja ke kantin itu, jaran terus ke kiri, udah ikutin aja jalannya, ntar pas udah masuk ke sekolahnya, kamu bisa ngeliat ada pendopo yg banyak ibu-ibu ngumpul. Nah disitu.." jawab gue dengan penjelasan mendetail selayaknya gue udah lama bersekolah di sini.

    "Oh oke, terimakasih ya"

    "yoyoy"

    .

    Akhirnya tuh anak bergegas menuju pendopo. Gue yg dari tadi emang gak ada kerjaan ini cuma bisa memeperhatikan anak itu dari belakang. 

    "Buset, rambutnya klimis amat, habis berapa banyak Gel Rambut tuh sampe bisa mengkilat gitu rambutnya. Bhahahak mana keritingnya lucu lagi. Astaga, ada aja mahluk-mahluk aneh yg mau sekolah di sini." Gue ngomong sendiri di dalam hati.

    Seorang anak laki-laki aneh dengan logat khas orang bangka, rambut belah pinggir, sedikit keriting, dan sering memakai Gel Rambut saat itu. Tapi gue cukup kaget waktu gak sengaja melihat kearah Badge sekolahan SMP yg ada di lengan kirinya itu.

    Itu adalah salah satu lambang SMP Cluster 1 di kota Bandung. Dulu gue juga pengen daftar ke SMP tersebut, tapi ukuran otak gue saat itu bisa dibilang mirip sama ukuran otak ayam. Beratnya gak lebih dari 2 ons. Jadi intinya gue nggak akan mampu untuk masuk ke sekolah sehebat itu. 

    "Wow, nih anak pinter juga bisa masuk sekolah begituan.
    Emang ya, tampang emang gak bisa menjadi acuan sebuah prestasi. 
    Lha anak dengan tampang kisut kaya buah kurma begitu eh ternyata SMPnya cluster 1. Hahahaha salut deh.” Gue tertawa puas di dalam hati.

    .

    Tanpa gue tau dan tanpa gue sadari, gue yg hari itu tengah menghina tampang anak yg baru gue temuin tadi, kelak akan menjadikannya seorang sahabat hingga mati. 

    Anak laki-laki aneh yg gue temuin itu, kelak menjadi seorang pria yg selalu ada ketika gue butuh, pria yg mengerti gue tanpa harus bertanya terlebih dahulu. Pria yg akan hadir di belakang ketika gue sedang maju, dan ada di depan, ketika gue sedang terjatuh.

    Seorang pria, yg akan selalu menemani kemanapun gue pergi..

    Dari pertama bertemu..
    Hingga hari ini..

    .

    .

    .

                                                               Bersambung

    Sunday, Jul 27, 2014   19:29:00
  14. 14 Notes
  15. "Ada yg tak mampu dicegah meski doa terucap setiap malam. Kepergianmu, seakan seperti takdir yg sudah tertulis pasti."

    Sunday, Jul 27, 2014   17:43:00
  16. 52 Notes
  17. "Kehebatanku dalam bertarung dan berjuang untuk kamu, selalu kalah jika dibandingkan kehebatanmu dalam mencintai masa lalumu itu."

    Sunday, Jul 27, 2014   17:42:18
  18. 44 Notes
  19. "Kuharap kita sesederhana itu. Seperti bertemu sepupu lama, walaupun mungkin terasa janggal, tapi tetap tersenyum tanpa terpaksa."

    Saturday, Jul 26, 2014   22:13:03
  20. 82 Notes